+62761-37947 info@rs-syafira.com

1. Mesin dialisis

Harganya mahal, sehingga penggunaannya secara bersamaan (bergantian) dan hanya dibedakan mesin untuk pasien infeksious dan non infeksious. Infeksi dalam hal ini hepatitis dan HIV / AIDS. Mesin yang digunakan pasien infeksius dipisah dengan mesin yang digunakan pasien non infeksius. Kalau pada Klinik / RS yang mesinnya tidak banyak, umumnya TIDAK MENERIMA pasien infeksius. Semua pasien baru, WAJIB hukumnya diperiksa status infeksinya sebelum memulai proses dialisis. Pemeriksaan ini diulang setiap 6 bulan sekali.

2. Dialiser

Bentuknya seperti tabung dan sering disebut ginjal buatan. Ada yang menggunakan 1 kali aja (single use), ada yang menggunakan hingga 8x (total 7 x pencucian). Sudah ada penelitian bahwa penggunaan 1x hingga 8x tidak terlalu berbeda hasilnya. Jadi penggunaan dialiser 8x masih diperbolehkan KECUALI dialisernya sudah rusak. Saat pencucian / sterilisasi dialiser langsung ditest apakah masih bisa digunakan atau tidak. Umumnya (ini umumnya) RS tipe A menggunakan metode Single Use, sedangkan tipe B dst ada yang Single Use ada yang Re-use. Tentu ini yang dibiayai BPJS. Kalau biaya sendiri, pake single use.

3. Selang  

Ada 2 jenis selang. Selang yang masuk ke mesin (difoto warna merah) dan selang yang keluar dari mesin (warna biru). Apapun tipe klinik/rs, bayar sendiri atau BPJS, selang HANYA DIGUNAKAN 1x saja. Setiap kali HD.

Kesimpulan:

Penggunaan berkali-kali itu HANYA untuk dialiser / tabungnya. Ini pun digunakan pada ORANG yang sama. Jadi dialisernya diberi / distempel nama pasien. Selesai digunakan, dialiser dicuci / di-steril sambil (secara otomatis) diperiksa apakah bisa digunakan lagi atau tidak. Jika tidak, meskipun belum 8x, langsung diganti.